“Shaum menurut bahasa artinya menahan. Sedangkan menurut istilah adalah menahan diri dari segala yang dapat membatalkan shaum sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan disertai niat. “ Begitulah pengertian shaum menurut sebuah buku ramadhan yang kemarin saya kerjakan. Seingat saya tidak terlalu jauh berbeda dengan pengertian yang kita “terpaksa” hafalkan ketika duduk di bangku sekolah. Nah dalam otak saya sudah lama sekali ada pertanyaan kecil tentang “Mengapa harus menahan diri?” bukan “Mengisi diri” atau semacamnya
Misteri tentang pertanyaan tersebut agak terkuak. Beberapa hari lalu saya mendengarkan pemaparan bapak ibu dari ANAK LANGIT di radio MQFM. Beliau menjabarkan tentang sebuah tipe kecerdasan pada manusia yang berupa ‘kecerdasan menahan diri’. Sebenarnya ada ‘istilah bule’-nya tapi saya tak bisa menangkap dengan jelas. :maklum otak kampung: Tapi intinya bahwa ‘kemampuan menahan diri’ wajib bin kudu dimiliki oleh semua orang yang ingin benar benar hidup. Hehe…
Mari kita lihat dari kacamata basenation (penyederhanaan-red), ada dua jenis daya yang sering kita gunakan dalam kehidupan ini. Daya tahan dan daya dorong. Bertahan dan menyerang. Ada rem dan ada gas. Kenapa ‘menahan atau bertahan’ ini jadi penting? Coba bayangkan jika naik mobil atau motor yang tidak ada rem-nya? Jika pun berhasil tidak masuk UGD pasti mengendarainya tidak senyaman dan seoptimal jika ada rem-nya. Rasulullah SAW dan para sahabat pun pernah membuat parit untuk melindungi madinah dari serangan kaum Quraisy dan Yahudi. Jadi benarkan pertahanan itu sangat penting!
Sekarang kita masuk ke ‘menahan diri’ dalam shaum ramadhan. Kenapa konsepnya “menahan” bukan “mengisi”? Justru disana letak keindahannya… Manusia memiliki potensi untuk menjadi baik atau menjadi jahat. Tidak ada manusia model kita yang 100% baik atau 100% jahat, pasti ada diantaranya dengan persentase berbeda-beda. Nah, ‘menahan’ berarti proses meminimalisir persentase jahat kita. Kenapa tidak ‘mengisi’ karena kemampuan setiap orang untuk berbuat baik berbeda-beda. Jadi perintah “menahan diri” ini semacam ‘standar minimal’ bagi orang yang ingin disebut orang beriman. Wallahu’alam.
‘Menahan’ Negatif berarti Positif.
Dalam kehidupan sehari-hari kita pun sering dituntut untuk ‘menahan diri’. Saat gagal atau saat mimpi belum jadi kenyataan. Secara naluri kita akan terpuruk dan bersedih. Jika dilihat dari kacamata ‘kewajaran’ tentu saja itu wajar. Tapi ada pilihan lebih baik yaitu dengan menahan diri untuk tidak terpuruk dan bersedih, energinya bisa dialihkan untuk kembali berusaha mengejar mimpi itu.
Saat kita tersakiti, wajar jika kita marah dan membalas perbuatannya. Tapi menahan diri untuk tidak melakukan itu adalah lebih baik. Setelah kita berhasil menahan keinginan tersebut baru sedikit demi sedikit kita berusaha memaafkannya.
Anjuran bagi yang belum siap menikah pun begitu, hasrat biologisnya harus ditahan dengan bantuan shaum. Hingga waktunya tiba…. (Kapan ya? Hahaha… ). Dalam hukum qishas pun begitu, boleh menuntut qishas, tapi menahan diri dan memaafkannya tentu dapat pahala yang sangat besar.
Dalam keseharian pun contohnya dapat mudah kita temukan. Saat kita sedang jalan, trus ada bola nyasar mengenai kita. Ternyata ada anak-anak yang sedang main bola. Walaupun kita marah, anak-anak tersebut pasti maklum, tapi jika menahan diri dan tetap tersenyum. Tentu kesan positif yang akan tertangkap oleh mereka.
Dari beberapa contoh tersebut, saya melihat ada persamaan bahwa setelah proses menahan diri dari perbuatan ‘tidak baik’ yang muncul adalah perbuatan positif. Jadi ingat rumus matematika negatif kali negatif hasilnya adalah positif.
Kenapa Harus Menahan Diri?
Ini mengingatkan saya pada kisah MUSASHI seorang legenda samurai dari Jepang sana. Awalnya ia seorang pelarian yang dimusuhi oleh orang sekampung tempat dia tinggal. Akhirnya ia mendapatkan pencerahan dan memutuskan untuk menjadi seorang samurai. Ia menahan diri untuk tidak pacaran. Suatu hal yang tidak mudah karena Otsu sang gadis pujaannya terus mengejarnya. Ia pun menahan diri untuk tidak minum sake sampai mabuk, padahal sake adalah minuman rakyat bagi orang Jepang waktu itu (entah kalo sekarang…). Ia pun menahan diri untuk tidak merokok, yang ini jelas karena rokok adalah barang mewah kala itu, meskipun jika Musashi mau ia pasti sulit membelinya. Dan yang paling penting ia berhasil menahan diri untuk MALAS-MALASAN, sehingga waktu luangnya ia gunakan untuk berlatih ilmu pedang. Alhasil ia menjadi seorang legenda Samurai.
Apa hubungannya ‘menahan diri’ dengan ‘keberhasilan’? DISIPLIN! Benar ternyata berjuang menahan diri atas hal-hal tidak baik seperti yang dilakukan Musashi yang akhirnya menjadikan dia seorang legenda. Dan jika DISIPLIN telah tertanam maka akan menjadi KEBIASAAN BAIK. Jika sudah begini keberhasilan hanyalah tinggal menunggu waktu…
Mungkin karena itulah salah hikmah dari shaum Ramadhan adalah dilakukan selama satu bulan penuh. Satu bulan penuh kita berjuang ‘menahan diri’. Diharapkan akhirnya kita menjadi disiplin dan semua hal-hal tidak baik yang kita tahan atau hal-hal baik yang kita usahakan akhirnya menjadi kebiasaan yang tetap kita amalkan meski Ramadhan telah usai.
Ide tulisan ini muncul beberapa hari yang lalu, baru sempet ditulis tadi pagi sambil menunggu kabar tentang sesuatu. Tulisan ini baru setengahnya ketika akhirnya kabar itu datang, setelah terjadi perdebatan panjang akhirnya ‘sang pujaan hati’ memutuskan untuk mundur dari perjalanan menuju pernikahan. Sakit memang… Meski umur saya udah seperempat abad tapi untuk urusan hati semacam ini, saya masih kesulitan mengendalikan emosi yang timbul. Hahaha… nikmat bener, memang sudah agak lamaan tak merasakan patah hati.
‘Menahan diri’ ketika tulisan memakan tuannya
Ini adalah bagian tambahan dan dadakan pula. Setelah beberapa jam berlebay-lebay ria, saya membaca kembali tulisan yang belum selesai ini (Waktu itu baru sampai bagian sebelum tulisan subjudul ‘kenapa harus menahan diri?’) dan saya merasa DITAMPAR!. Tulisan ini seperti memakan saya sendiri (Tuh kan, efek lebaynya masih terlihat). Saya menulis tentang ‘menahan diri’ tapi ketika beberapa menit kemudian saya mengalami kesedihan, ternyata saya belum sanggup ‘menahan diri’. Jadi malu
Pada akhirnya tulisan ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk saya sendiri dan bagi semua saudara-saudara saya yang juga ketika kerinduan dan kegembiraan menyambut Ramadhan kali ini diwarnai dengan resah, sedih, takut, sakit dan marah yang mendalam. Seberapa pun beratnya, tetaplah ‘menahan diri’ untuk tidak melampiaskannya dengan kegiatan yang tidak Allah ridhoi. Tetaplah ‘menahan diri’, bukankah setelah kesulitan pasti ada kemudahan….
Juga bagi semuanya, selamat ‘menahan diri’ selama ramadhan ini!
Tulisan ini hanya akal-akalan otak saya saja, sangat subjektif dan silahkan diluruskan jika sekiranya ada yang salah dan menyimpang. Salam ‘menahan diri’!


#1 by Asop on 1 August 2011 - 5:49 pm
Puasa itu enak.
#2 by Baju Wanita on 3 August 2011 - 10:39 am
puasa itu, bersihkan diri, sucikan hati, dan eratkan silahturahmi.. hhe
#3 by gavee on 3 August 2011 - 5:20 pm
Salam, dan selamat menjalankan ibadah puasa….
#4 by Kontraktor on 6 December 2011 - 10:50 am
puasa itu sehat… ^^
#5 by Hisyam_Bioaktif on 1 February 2012 - 8:39 pm
wah,bagus sekali artikelnya..ijin bookmark ya
saya juga sejak keluar pesantren membiasakan diri puasa daud,alhamdulillah memang banyak sekali manfaatnya…jadi lebih sabar,berpikr juga lebih jernih…dan mungkin yang paling utama adalah saya insya allah sembuh dari kecanduan porno lewat puasa ini…